Déjà vu

Menurut para ahli, 70% dari penduduk bumi pernah mengalami déjà vu. Udah familiarkan dengan kata déjà vu, atau mungkin udah pernah mengalami? Déjà vu sebenarnya berasal dari bahasa Perancis yang berarti sudah pernah melihat, maksudnya kita merasa sudah melihat sesuatu yang belum pernah kita lihat. Tapi pengertian yang sempit ini kemudian dipatahkan dengan sebuah penelitian di majalah Brain&Recognition yang bilang kalau orang buta juga bisa mengalami déjà vu. Jadi sekarang orang-orang lebih mengenal déjà vu sebagai kejadian ketika kita nggak hanya bisa melihat tapi juga mengalami sesuatu yang belum kita alami. Déjà vu juga di kenal dengan nama paramnesia yang dalam bahasa Yunani berarti sejajar dalam ingatan.

Menurut Arthur Funkhouster, seorang psikolog dari Swiss, ada 3 jenis déjà vu :
• Deja vecu
Deja vecu berarti sudah mengalami sesuatu. Deja vecu adalah pengalaman déjà vu yang paling sering kita alami. Kita merasa pernah mengalami hal ini sebelumnya atau atau sudah pernah berada dalam situasi ini sebelumnya dan kita tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Deja vecu biasanya berhubungan dengan aktivitas sehari-hari.
• Deja senti
Deja senti berarti sudah pernah merasakan sesuatu. Berbeda dengan deja vecu,, deja senti dimulai dari sebuah perasaan yang sangat familiar yang kemudian menciptakan situasi yang juga sudah sangat kita kenal.
• Deja visite
Deja visite berarti sudah pernah mengunjungi suatu tempat. Walaupun memang agak mirip dengan deja vecu, deja visite lebih menekankan pada tempat dan dimensi special.

Pengalaman déjà vu kita gak harus termasuk salah satu déjà vu di atas. Déjà vu biasanya terjadi secara tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi. Tapi kenapa kita bisa mengalami déjà vu? Menurut penelitian yang dilakukan Susumu Tonegawa, seorang ahli syaraf, penyebab terjadi déjà vu adalah karena kita gak memiliki dentate gyrus yang berfungsi normal. Dentate gyrus adalah bagian kecil dari otak kita yang berfungsi mendata mana pengalaman baru dan mana pengalaman yang lama. Ketika bagian ini gagal berfungsi kita mengalami déjà vu karena otak kita bingung dan otak kita mendata pengalaman yang belum pernah kita alami sebagai pengalaman lama. Nggak heran kalau déjà vu bakal lebih sering terjadi pada orang yang cukup tua karena fungsi otak mulai melemah.

Ternyata déjà vu juga bisa terjadi karena beberapa keadaan yang ada dalam diri kita. Berdasarkan penelitian yang diadakan oleh Morton Leeds dari University of New York, déjà vu cenderung terjadi saat kita capek atau lagi stress karena pada saat inilah otak kita juga lagi capek dan paling mungkin terganggu kerjanya. Selain itu, déjà vu lebih sering terjadi pada seberapa tinggi pendidikannya dan seberapa sering kita berpergian ke tempat baru karena saat kita banyak mempelajari hal baru, pergi ke tempat baru dan mengalami hal-hal baru akan lebih banyak ingatan baru yang tersimpan dalam memori otak kita.

Walaupun kelihatannya keren déjà vu yang terus menerus berlangsung dalam frekuensi yang cukup sering bisa menjadi berbahaya. Dalam sebuah penelitian Chris Moulin beberapa penderita kronis déjà vu bahkan sampai gak mau pergi ke dokter ketika mereka sakit karena mereka merasa sudah pernah pergi ke dokter dan sudah tahu obat apa yang akan diberikan. Ada lagi yang gak mau nonton TV karena sudah merasa berulang-ulang menonton acara yang belum pernah ditonton. Menurut Chris Moulin kalau keadaan ini terus berlangsung bisa membuat kita tertekan dan bisa menuntun pada depresi berat.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: